Jambi, CNN Indonesia

Polres Muaro Jambi angkat bicara mengenai kasus dokter bernama Dwi Fatimahyen (29) yang tewas usai kecelakaan tunggal di Jalan Lintas Jambi-Riau, Sekernan, Muaro Jambi, imbas dikejar warga dan polisi. Polisi menjelaskan para warga yang mengejar tidak bisa dipidana.

Kapolres Mauro Jambi AKBP Wahyu Bram mengatakan Dwi sebelum dikejar warga, tampak mengelilingi Perumahan Pondok Cipta, Mestong, Muaro Jambi, selama empat menit. Dwi saat itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga memicu kecurigaan.

“Yang bersangkutan ngebut. Warga ini share beritanya ke grup warga kompleks ‘ada orang yang ngebut di tempat kita,'” katanya, Selasa (2/4) malam.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dwi yang diadang warga, kata Bram, malah menancap gas dengan kecepatan tinggi. Sehingga lima pria dengan tiga sepeda motornya langsung mengejar perempuan itu.

Ketika sampai di jalan raya, kejar-kejaran ini dilihat sejumlah polisi yang sedang melakukan patroli. Para polisi itu juga mendengar teriakan maling sehingga ikut mengejar Dwi.

Bram mengatakan para anggota yang mengejar telah dilengkapi dengan sirine dan toa agar Dwi berhenti. Polisi bahkan sempat menembakkan tembakan peringatan, tetapi perempuan ini tetap melajukan mobilnya. Bagi Bram, tidak ada kesalahan prosedur yang dilakukan anggotanya.

“Anggota kami sudah menggunakan toa (pengeras suara) dan meminta berhenti. Kalau warga yang ngejar, dan ditakuti begal, itu masih wajar. Kami menyesalkan kenapa korban tidak menghentikan kendaraannya,” kata Bram.

Ia pun mengatakan pengejaran itu berlangsung selama berkisar satu jam. Warga dan polisi mengejar selama berkisar 15 menit. Sekitar 40 menit sisanya, hanya polisi yang mengejar.

Walau menghadapi kondisi lalu lintas yang padat saat sampai di Sekernan, Dwi tetap melajukan mobilnya demi lolos dari kejaran.

Sialnya, Dwi berpapasan dengan truk. Ia langsung banting setir hingga menabrak tiang listrik dan rumah warga lalu tewas.

“Dari jalan yang berlawanan ada truk. Akhirnya banting setir ke kanan. Terjadilah kecelakaan menghantam rumah warga,” kata Bram

Warga yang mengejar tidak bisa dipidana

Bram mengatakan lima orang yang mengejar adalah warga Perumahan Pondok Meja. Mereka tidak bisa dipidana karena tidak langsung memicu kecelakaan tunggal tersebut.

“Karena ada jeda antara peristiwa itu yang cukup jauh. Yang mana warga mundur (tidak mengejar sampai tuntas) dan sudah banyak perubahan kondisi. Lalu yang bersangkutan tidak mau mengurangi kecepatannya, otomatis berakibat buruk,” katanya.

Klaim Bram, warga yang mengejar tidak bermaksud lain. Mereka salah paham terhadap Dwi dengan menuduh berbuat maling. “Lima orang sudah diperiksa. Sejak awal, yang bersangkutan (Dwi) memang sudah memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi sehingga warga khawatir,” katanya.

Bram menegaskan bahwa Dwi bukanlah pencuri atau maling sebagaimana yang dituduhkan warga. “Yang bersangkutan bukan pelaku pencurian,” ujarnya.

Dwi Panik karena dibuntuti warga

Sebelum mengalami kecelakaan, Dwi berpamitan dengan orang tuanya berkisar pukul 14.00 WIB. Ia mengendarai mobil dengan maksud mencari lokasi klinik kecantikan yang baru.

“Beliau mau buka usaha klinik kecantikan lagi di daerah Sebapo. Kebetulan beliau sudah punya klinik kecantikan di dekat Masjid Seribu Tiang. Di Sengeti, Muaro Jambi, juga ada kliniknya. Terus mau buat lagi,” kata Erwin, sepupu korban, Selasa (2/4).

Namun, pada malam hari, Dwi menelepon orang tuanya dalam kondisi panik. Terdapat tiga orang asing yang membuntutinya.

“Beliau (Dwi) ngomong seperti ini ‘pak, Dwi takut, pak’. ‘Kenapa nak?’ kata ayahnya. ‘Dwi dibuntuti oleh orang’. Dan tempatnya kebetulan sepi. ‘Kalau kamu dibuntuti orang di tempat sepi, cepat nak. Ngebut dikit’. Begitu kira-kira,” ujar Erwin yang mengulang percakapan antara Dwi dan ayahnya.

Dwi yang melajukan mobil dalam kecepatan tinggi, dikejar dengan sepeda motor sembari diteriaki maling. Polisi yang sedang patroli dan mendengar teriakan itu, ikut mengejar Dwi.

“Kalau kondisi seperti itu, ia cemas, gugup, dan kagetan. Semakin dikejar oleh warga dan aparat, semakin ngebut dia membawa mobilnya,” kata Erwin.

Kejar-kejaran berakhir setelah Dwi mengalami kecelakaan tunggal. Ia kehilangan kendali karena menghindari pengendara lain, lalu menabrak tiang listrik dengan kecepatan tinggi.

Erwin mengatakan keluarga korban keberatan atas tuduhan maling tersebut. Mobil yang dikendarai Dwi adalah milik orang tuanya, dilengkapi BPKB dan surat-surat lainnya.

“Yang menjadi beban ialah kepergian beliau itu caranya difitnah telah melakukan pencurian mobil. Mobil yang ia bawa ialah mobilnya sendiri dari orang tuanya,” katanya.

Selain dituduh maling mobil, Dwi juga dituduh melakukan tabrak lari. Kedua tuduhan ini membuat keluarganya terpukul.

Karena itu, keluarga Dwi meminta klarifikasi dari orang melayangkan tuduhan tersebut. Apalagi terdapat perkataan yang tidak mengenakan dalam video yang tersebar di media sosial.

“Kalau tidak bisa membuktikan tolong klarifikasi bahwa tuduhan itu tidak benar. Supaya nama baik beliau itu pulih lagi. Apalagi mengingat beliau sudah meninggal dunia,” katanya.

“Terus, yang bikin sedih lagi di video itu, saat korban sudah kecelakaan, dia terpental keluar, masih ada juga orang meneriaki dengan kata binatang atau tidak pantas ‘woi anj*ng, bangun’. Sedangkan itu manusia. Nah saya minta tolong, siapa orangnya untuk klarifikasi,” ujar Erwin.

Ia mengatakan pihaknya belum berencana mengambil langkah secara hukum. Kedua orang tua korban masih syok dan belum bisa diajak berbicara soal ini.

“Beberapa hari ini keluarga korban sangat syok. Saya belum bisa berkomunikasi terkait upaya hukum ke depannya. Tapi insya Allah beberapa hari lagi ada jawaban,” ujar Erwin.

(msa/isn)

[Gambas:Video CNN]





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *